Langsung ke konten utama

LAPORAN LATSAR XXX | Saksi Hidup 15.605 PAFF


Laporan mengenai LATSAR XXX

Oleh : Muhammad Khairul Anam a.k.a Asbak dan 15.605 PAFF


Hari Pertama


Berkumpul di sekolah tepat pukul 5.30 pagi dengan menggunakan pakaian seperti saat latihan rutin. Setelah sampai disana melakukan packing carrier, lalu melaksanakan apel pembukaan bersama dengan ekstra pramuka yang sedang melaksanakan kegiatan TAKADAMURA. Setelah apel pembukaan, para junior diajari lagu PAFF SMADA untuk dinyanyikan di perjalanan juga tanda pengenal berupa kain oranye yang diberi “nama bagus” kami dengan diikatkan di masing – masing bahu kami.

Setelah ekstra pramuka berangkat, Kami pun berangkat setelah mereka. Perjalanan diawali dengan mengucapkan salam terhadap Senior. Kami pun berangkat sambil menyanyikan lagu yang telah diajarkan tadi. Perjalanan yang dilalui sangat melelahkan, tidak jarang Kami melakukan istirahat. Nah, pada saat sampai di samping stadion, carrier kami di cek untuk mencari carrier mana yang masih ringan karena sebelum berangkat tadi, carrier yang masih ringan diberi batu, agar setiap carrier yang kami bawa memiliki berat yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa ekstra PAFF ini sangat memiliki rasa Kebersamaan dan Kekeluargaan yang tinggi, karena itulah yang membuat ekstra PAFF ini sangat menakjubkan. Setelah dirasa semua carrier memiliki berat yang sesuai. Kami pun melanjutkan perjalanan kembali, tidak jarang teman – teman sesekali beristirahat sejenak sambil minum air. Setelah didapati sampai ditanjakan jalan yang harus kita tuju jika mau ke Curahdami, disanalah kita di tes tehnik packing masing – masing, dengan cara apa? Nah, inilah caranya, dengan menceburkan carrier kami di sungai dan kami duduki. Hal ini menarik sekali. Saat disana, banyak teman – teman yang sudah merasa kelelahan, padahal tujuan masih jauh, hal ini dikarenakan carrier yang sangat berat. Disanapun, terdapat teman kami yang tidak bisa lanjut dikarenakan asma, tetapi Dia mengatakan masih bisa lanjut asal carriernya tidak diberatkan/dibawa. Disana pun, Kami tanpa malu meminta air kepada penduduk setempat. Setelah itu, Kami melanjutkan perjalanan dan sampai di Desa Curahdami. Pada saat sudah di tanjakan yang akan menuju gunung, disinilah sudah banyak teman – teman yang mengeluh, tetapi tetap dengan penuh semangat, Kami termotivasi untuk terus maju. Pada istirahat terakhir di perjalanan, Kami diberi satu bundel pisang, walau hanya pisang, itulah makanan yang paling enak yang pernah kami makan, ujar Homina, salah satu teman di dekat Saya pada waktu itu. Nah, dengan heran, teman – teman saya melihat finish dari perjalanan kami, disitulah Kami bertemu para Senior, dan Kami sangat bersyukur.

Selanjutnya, Kami melakukan makan bersama dengan bekal yang telah ditetapkan, lalu setelah itulah Kami melakukan Navigasi Darat sama seperti yang telah diajarkan. Akan tetapi, terdapat kompas yang kadaluarsa. Saat itu, Kelompok kami terbagi menjadi empat kelompok. Nah, kebetulan Saya adalah Kelompok terakhir, nah, Saya dapat kompas yang error tadi itu. Setelah itu, Kami bergabung dengan kelompok pertama, Nah, di tengah perjalanan, Kami tersesat. Entah kenapa dan bagaiman, usut punya usut, ternyata koordinat yang diberi oleh Seniornya salah. Lalu hujan pun turun, kami sebagai kelompok terakhir tersesat, lalu kelompok yang lain menghampiri Kami, lalu Kami menuju Basecamp. Kami saat itu memakai jas hujan yang telah disuruh bawa. Saat sampai di Base Camp, Kami langsung disuruh membuat Biovack agar tidak kehujanan dan tempat untuk tidur. Setelah biovack selesai dibuat, Kami disuruh memasak, Kami memasak makanan dengan menggunakan nesting, siritus, kompor buatan. Pada waktu itu, ada yang masak, dan mengambil air di pemukiman warga, saya adalah salah satu yang mengambil air, dikarenakan hujan deras, tanah untuk ditanjaki becek, dan kami terus jatuh dan kesulitan, tetapi tetap Kami bisa mendapatkan air. Pada saat makan, Kami makan bersama dengan makanan yang sudah di masak diletakkan pada daun pisang yang telah disiapkan oleh Senior. Karena makanan yang dimasak kebanyakan, Kami lambat memakannya, dan karena itulah, Seniornya marah. Setelah itu kami diberi nesting yang berisi air untuk cuci tangan, Kami terkejut, karena Kami harus minum dari nesting tersebut, tetapi itu masuk akal, karena itu hanya bekas makanan kami yang terdapat sisa ditangan kami, jadi jika Kami minum itu sama seperti saat Kami makan tadi. Setelah itu, Kami menuju musholla untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib. Setelah sholat, Kami mempersiapkan diri untuk SosPed, yaitu melakukan wawancara terhadap warga sekitar mengenai desa. Setelah itu, Kami kembali ke Basecamp. Setelah itu, Kami tidak langsung tidur, Kami disuruh melakukan evaluasi, nah, evaluasi ini dimana Kami harus mempertanggungjawabkan kesalahan selama di kegiatan LATSAR ini, dan Kami melakukan hukuman pushup. Dan diakhiri dengan motivasi. Setelah inilah, Kami diperbolehkan tidur.

Hari Kedua


Sebenarnya Saya tidak tahu ini hari kedua atau tidak, soalnya Kami dibangunkan dengan cara dibangunkan dengan menghitung sepuluh sampai dengan satu. Disinilah Kami terbukti belum siap, terdapat dari Kami yang tidak bersepatu, berpakaian lengkap. Nah, Kami dihukum kembali. Lalu Kami ditanya apakah Kami dingin atau tidak, Kami menjawab ya. Lalu Kami disuruh melakukan sesuatu agar Kami hangat. Lalu Kami di pushup lagi, lalu peregangan, dihukum lagi. Karena dirasa sudah hangat, Kami diberi nesting yang sangat dingin sekali karena dibiarkan semalaman dan disentuhkan pada bagian tubuh kami, bagi laki – laki saat itu disuruh melepas baju. Nah, setelah proses tadi, Kami disuruh bersiap untuk shalat shubuh dan membersihkan nesting/peralatan masak. Lalu kembali ke Base Camp, Kami bersiap untuk sarapan pagi, nah, disini Kami instropeksi diri untuk memasak sesuai yang dibutuhkan, Nah setelah selesai, Kami makan bersama lagi, tapi kali ini Kami sangat cepat sekali menghabiskannya, Senior sangat senang. Setelah itu, Kami diberi waktu untuk berkemas dan membongkar biovack, lalu melakukan apel kembali, sebelum melanjutkan perjalanan, Kami diingatkan agar bernyanyi di perjalanan. Lalu melanjutkan perjalanan, untuk ke kaki gunung Saeng, Basecamp kedua. Nah sesampainya disana, Kami melakukan analisa vegetasi dan herbarium, sebelum itu Kami disuruh makan roti dan shalat dhuhur. Setelah shalat dhuhur, dan setelah analisa vegetasi, kami membuat herbarium jejak kaki.Setelah herbarium selesai, Kami melakukan SAR mencari bahan makanan, dan itu terkumpul semuanya, Alhamdulillah. Dan setelah itu pula, Kami melakukan pertolongan pertama, Karena telah menyelesaikan SAR dengan benar, Kami diberi hadiah yaitu belajar sebelum melakukan Pertolongan Pertama. Tiba saatnya untuk PP, Kami disini kesusahan karena, tidak lengkapnya peralatan medis disana, Kami pun melakukan improvisasi dengan menggunakan kayu disekitar, dan Kami juga kesusahan untuk memindahkan para korban, Karena keberatan. Setelah itulah, pada sore hari, Kami disuruh membuat biovack untuk perisitirahatan selanjutnya. Setelah itu, Kami siap – siap untuk shalat maghrib dan istirahat memakan gabin, karena tidak ada gabin yang termakan. Setelah itu, diadakan bicara atau sharing dengan Alumni, Disinilah Kami menanyakan hal – hal mengenai pengalaman LATSAR, dan sebagainya. Setelah itu, waktu untuk tidur, Kami melakukan evaluasi kembali, disini lebih berat dari sebelumnya jumlah hukuman lebih banyak dan lebih menyakitkan, tetapi inilah motivasi Kami untuk dapat terus maju agar tidak menyerah. Lalu tiba saat untuk tidur. Disinilah ada kabar buruk yang terjadi untuk diri saya sendiri, dikarenakan tidak mau diak lengkap saat dibangunkan, saya tidak melepas kaos kaki dan sepatu saya padahal itu masih basah. Nah, Saya baru ingat sebelum shalat maghrib, Kami disuruh masak, lalu makan, dan ada amanah yaitu daun pisang yang telah kami gunakan untuk makan sore hari ini, jangan sampai rusak untuk sarapan besok.

Hari Terakhir


Keesokan harinya, Kami melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, akan tetapi yang ini lebih ganas lagi dari sebelumnya. Kami diberi pemanasan yang penting buat Kami, dan disuruh pushup dengan jumlah yang, yah, bisa dikira – kira sendiri. Setelah ini, Kami shalat shubuh, lalu dilanjutkan dengan memasak, dan bongkar biovack. Setelah itu semua selesai, Kami melanjutkan perjalanan, akan tetapi setelah melakukan perjalanan mutar sana nyanyi sini. Ternyata akhirnya juga tepat di Base Camp kedua. Tetapi sebelum itu, ada hal yang sangat penting yaitu pengetesan mental Kami. Maksudnya adalah semua yang ada disini akan mendapat skraf, akan tetapi ada di tiap kelompok yang tidak akan dapat, satu orang. Kami diminta memilih satu, padahal Kami tidak mau, akan tetapi ada anggota tiap kelompok yang rela mengorbankan dirinya, hal ini lah yang membuat Kami terharu. Tekanan bertubi – tubi dilakukan oleh Senior dan Alumni Kami. Dan pada akhirnya, dua orang dari bagian yang mendapat skraf, mengejar Senior yang sudah terlanjur meninggalkan Kami, setelah ini, mereka melakukan kesepakatan yang sangat beresiko yaitu empat orang yang tadi tidak mendapatkan skraf boleh mendapat skraf akan tetapi jika mereka jarang mengikuti ekstra rutin di kelanjutan hari, maka dua orang tersebut harus berhenti dari PAFF. Setelah itu, barulah Kami sampai di Base Camp kedua tempat awal Kami, Disanalah Kami menerima penyerahan skraf dan kelulusan LATSAR XXX ini. Tapi sebelum itu, Kami disuruh untuk melepas skraf hijau kami untuk ditutupkan pada mata kami, disinilah Kami semua disuruh menyanyikan lagu syukur, setelah selesai, Kami membuka mata, dan Kami sangat senang dan bangga. Tiba pembacaan nomor sah kami di PAFF. Dan setelah itu, Kami bernyanyi lagu PAFF bersama, berjabat tangan bersama, dan acara ini ditutup dengan apel penutupan LATSAR XXX. Selesai

Tambahan, Kami pulang mengendarai truk bersama – sama Senior dan Alumninya juga. Dan Kami mempunyai yel – yel sendiri untuk kami sendiri yaitu Se ... mangat, Latsar 30 semangat. Inilah yang membuat Kami semangat pada akhirnya. Dan kabar buruk yang Saya ceritakan tadi adalah bahwa kaki saya terkena kutu air yang sangat mengerikan sampai – sampai Saya waktu mengetik ini saja membayangkannya merinding. Dan sekarang benar – benar, Selesai, dan Terima Kasih PAFF. Salam PAFF! Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Terima kasih telah membaca.

Komentar

Saya yang dikenal

ATM Tertelan, Hidup Tertekan

ATM Tertelan, Hidup Tertekan Bangun tidur Bangun tidur diikuti dengan bangunnya hape saya, notif pun menghujani visual saya. Dengan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, saya mendapati pemandangan notifikasi layar monitor Evercoss A75A tertuju pada "Keluarga Sukses", sudah sampai pikiranku pada tulisan "sudah dikirim kemarin lusa!". Segera bergeraklah impuls menuju otakku memberikan respon pada prefrontal cortex  sehingga membuatku sregep  mencari dompet, lalu membukanya. Apa dayaku, plastik persegi panjang itu, sudah tak terlihat lagi. Hal ini membuatku mengimplementasikan materi psikologi umum bab. memory process , pada bagian retrieval, membuatku bernostalgia menuju ATM Veteran dan ATM Surabaya. Doubt  adalah kata-kata dalam bahasa inggris yang tepat untuk menjelaskan kebingunganku, "dimanakah ia?" Jantung dengan kemampuan sistem saraf otonom mendetakkannya begitu cepat. Bersambung... Cerita akan berlanjut setelah Awcan pergi, aktor selanjutnya ...

Kuliah Tamu #1 "Gak tau tadi" - Resiliensi pada Generasi Z

Resiliensi oleh Dr. Wiwin Hendriani, Dosen Fakultas Psikologi UNAIR Stimulus negatif yang mempengaruhi anak dapat dilakukan oleh anak-anak lainnya. Pengawasan dan perlindungan orang tua merupakan salah satu faktor dari perkembangan anak. Pengawasan dan perlindungan dari orang tua ada untuk membatasi dunia anak dari sesuatu yang buruk atau negatif. Tidak ada perilaku yang ada tanpa sebab. Hal pertama yang dilakukan seorang psikolog, bukan men judge , tapi menanyakan, "kenapa?" Mereka yang berperilaku buruk merupakan sosok yang gagal dalam beradaptasi. Perilaku anak yang buruk muncul karena pengalaman yang buruk, seperti keluarga tak harmonis. Tak hanya itu, terdapat banyak situasi yang membuat seseorang gagal beradaptasi. " Resilience are showed by self control, self esteem, goal setting with realistic, problem solving skills, ability to recognize their own emotions and those of others, social skills and ability to seek assistance from others, learning from the...