Langsung ke konten utama

Kuliah Tamu #1 "Gak tau tadi" - Resiliensi pada Generasi Z

Resiliensi oleh Dr. Wiwin Hendriani, Dosen Fakultas Psikologi UNAIR

Stimulus negatif yang mempengaruhi anak dapat dilakukan oleh anak-anak lainnya. Pengawasan dan perlindungan orang tua merupakan salah satu faktor dari perkembangan anak. Pengawasan dan perlindungan dari orang tua ada untuk membatasi dunia anak dari sesuatu yang buruk atau negatif.

Tidak ada perilaku yang ada tanpa sebab. Hal pertama yang dilakukan seorang psikolog, bukan menjudge, tapi menanyakan, "kenapa?" Mereka yang berperilaku buruk merupakan sosok yang gagal dalam beradaptasi. Perilaku anak yang buruk muncul karena pengalaman yang buruk, seperti keluarga tak harmonis. Tak hanya itu, terdapat banyak situasi yang membuat seseorang gagal beradaptasi.

"Resilience are showed by self control, self esteem, goal setting with realistic, problem solving skills, ability to recognize their own emotions and those of others, social skills and ability to seek assistance from others, learning from their mistakes, understanding the acceptance of their own strength and weaknesses, willingness to overcome difficulties than avoid problems, and optimistic thinking patterns."

Teori Resiliensi
Setiap teori itu memiliki banyak tokoh-tokoh, begitu pun resiliensi. 
Misal, Anda ingin membuat penelitian, janganlah mengangkat tentang resiliensi akibat bintang-bintang, resiliensi mahasiswa akibat telat kuliah. Carilah resiliensi yang lebih mendalam!
Resiliensi, malah pertama kali dipelajari di materials science (ilmu yang mempelajari alam-alam). Jelaskan suatu permasalahan dengan satu teori psikologi yang kamu sukai!
Orang yang resilien, mereka melihat atau mendapati kondisi yang buruk, seperti orang tua alkoholik, bertengkar, dll. Namun, mereka memiliki kemampuan untuk menangani hal tersebut, itulah yang disebut resiliensi. Kemampuan untuk stay positive even have a lot of problems, it's a resiliance.

Konsep Lain Terkait Resiliensi
1. Salutogenesis/hipotesis salutogenik (Antonovsky, 1978) -> salutogenik model of health
2. Hardiness (Kobasa, 1979)
Ada perbedaan antara Teori Hardiness dan Teori Resiliensi, yakni secara konseptual. Resiliensi dapat dipelajari oleh siapapun. Orang yang resilien dapat membantu orang yang memiliki masalah untuk meningkatkan resiliensi mereka. Ada masalah, dia bertahan.
3. Learned Resourcefulness (Rosenbaum & Ben-Ari, 1985)
Learned Resourcefulness dan resiliensi itu sejalan, namun berbeda.
Kamus: resourcefulness kb. kepanjangan akal daya.
4. Postraumatic Growth (Tedeschi & Calhoun, 1996)
5. Thriving (Ickovics & Park, 1998)

Kamus: thrive kki. (throve atau thrived, thrived atau thriven) 1 tumbuh dengan subur (of plants and animals). 2 maju dengan pesat, berkembang dengan pesat (of business). -thriving ks. yang sedang berkembang. t. business usaha yang sedang berkembang dengan baik.

*Setiap konsep/teori itu memiliki interesting point sendiri.
Bagaimana cara kita meningkatkan resiliensi diri? apakah mungkin resiliensi ditingkatkan untuk mereka yang abnormal secara psikologis?

Resiliensi:
1. Koping efektif dan adaptasi positif (Lazarus, 1993)
Koping efektif akan diikuti oleh adaptasi-adaptasi yang bagus. Koping menggerakkan individu untuk menentukan langkah adaptasi yang dilakukan kemudian.
  • Dunn, dkk. (1997): adaptasi merupakan outcome fungsional dari koping.
  • McCubbin dan Patterson (1982): McCubbin dan McCubbin (1996) -> adaptasi yang dimunculkan oleh individu merupakan hasil dari koping yang dilakukan.
Contoh: setelah menangis karena stres tadi, seseorang akan melakukan apa. Itulah proses adaptasi setelah dilakukan koping.
2. Proses dinamis mencakup adaptasi positif (Luthar, 2000, 2003)
3. ...


*Saat manusia mengalami kejatuhan level of functioning, orang yang PTG akan thriving,  orang yang resiliance akan recovery, orang yang PTSD akan survival with impaiment, dan orang yang PTSD akan dapat pula mengalami succumbing. Contoh, ada seorang Ibu yang mengalami kecelakaan, lalu kakinya diamputasi dan mengalami kelumpuhan. Padahal, sebelumnya Ia sering travelling ke luar negeri. Jika orang yang PTSD akan mengalami succumbing atau mungkin saja bunuh diri. Namun, mereka yang resilience, kehidupannya menjadi lebih baik, yang awalnya pekerja biasa, lalu menjadi pengusaha kaya. Inilah yang disebut thriving.

Faktor Protektif & Faktor Risiko (Protective Factors and Risk Factors)
"Semakin kuat faktor protektif, semakin besar peluang individu untuk mencapai resiliensi."

Faktor Risiko Eksternal
Contoh faktor risiko eksternal adalah ketika sang Ibu diatas melamar pekerjaan, perusahaan tidak menerima orang dengan kelumpuhan. Faktor lainnya adalah support keluarga.
Faktor Risiko Internal: religiusitas

Faktor Protektif Eksternal: Social Support. Contohnya, teman yang mengatakan, "sudah tidak apa-apa.".
Faktor Protektif Internal = Faktor Risiko Internal

Faktor Protektif dan Faktor Risiko
1. Individual Factors
2. Family Factors
3. Community Factors

KBBI: ri·si·ko n akibat yg kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dr suatu perbuatan atau tindakan: apa pun -- nya, saya akan menerimanya; dia berani menanggung -- dr tindakannya itu

Orang yang menunjukkan bahwa dia tidak apa-apa. Itu bukanlah resiliensi, tapi merupakan defense mechanism. Contoh, seorang pekerja yang dipecat dari pekerjaannya, lalu Ia dengan sombong mengatakan, "saya tidak apa-apa." Orang yang resilien akan menunjukkan ketenangan dan sikap-sikap positif lainnya.

"Autisme dipandang sebelah mata. Apakah orang yang autis dapat memiliki sikap/kemampuan yang resilien? Jika bisa, mengapa bisa?"
Jawaban: Orang yang autis itu dapat memiliki resiliensi. Namun, dengan kapasitas sesuai dengan kondisi mentalnya. Jadi, memiliki peluang untuk ber-resiliensi yang sama, namun tetap pada kondisi tertentu.

Stressor akan membuat seseorang stres, dan stres ini akan diiringi dengan faktor protektif dan juga faktor risiko dalam mempengaruhi kelanjutan kehidupan manusia pasca stres.

Resiliensi dalam Perspektif Life Span
Resiliensi dapat ditingkatkan dan dapat menimbulkan adaptasi-adaptasi positif.
  • Development is lifelong
  • Development is multidimensional
  • Development is multidirectional
  • Development is contextual
  • Development is plastic
  • Development involves Growth, Meintenance, and Regulation.
Setiap tahap dalam perspektif Life Span, ada didalamnya teori resiliensi sendiri.

Resiliensi bagi Generasi ZGENERATION Z: The Generation after Millenials


Generasi Z tidak dapat lepas dari gadget. Contoh kasus: ada satu anak yang tidak memiliki gadget, padahal semua temannya memiliki gadget. Ini membuat si anak tidak dapat bermain bersama temannya.
*Menurut Ilmu Sosiologi, akan terjadi zaman dimana ada pertentangan antar generasi.
*Tabel generasi Z: Overviem of different generations
Resilience dibutuhkan karena:
  1. Stressor dan adversity dalam lingkungan tumbuh kembang yang semakin beragam
  2. Gaya hidup dan pola perilaku sosial di masyarakat yang berubah

Komentar

Saya yang dikenal

ATM Tertelan, Hidup Tertekan

ATM Tertelan, Hidup Tertekan Bangun tidur Bangun tidur diikuti dengan bangunnya hape saya, notif pun menghujani visual saya. Dengan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, saya mendapati pemandangan notifikasi layar monitor Evercoss A75A tertuju pada "Keluarga Sukses", sudah sampai pikiranku pada tulisan "sudah dikirim kemarin lusa!". Segera bergeraklah impuls menuju otakku memberikan respon pada prefrontal cortex  sehingga membuatku sregep  mencari dompet, lalu membukanya. Apa dayaku, plastik persegi panjang itu, sudah tak terlihat lagi. Hal ini membuatku mengimplementasikan materi psikologi umum bab. memory process , pada bagian retrieval, membuatku bernostalgia menuju ATM Veteran dan ATM Surabaya. Doubt  adalah kata-kata dalam bahasa inggris yang tepat untuk menjelaskan kebingunganku, "dimanakah ia?" Jantung dengan kemampuan sistem saraf otonom mendetakkannya begitu cepat. Bersambung... Cerita akan berlanjut setelah Awcan pergi, aktor selanjutnya ...

LAPORAN LATSAR XXX | Saksi Hidup 15.605 PAFF

Laporan mengenai LATSAR XXX Oleh : Muhammad Khairul Anam a.k.a Asbak dan 15.605 PAFF Hari Pertama Berkumpul di sekolah tepat pukul 5.30 pagi dengan menggunakan pakaian seperti saat latihan rutin. Setelah sampai disana melakukan packing carrier, lalu melaksanakan apel pembukaan bersama dengan ekstra pramuka yang sedang melaksanakan kegiatan TAKADAMURA. Setelah apel pembukaan, para junior diajari lagu PAFF SMADA untuk dinyanyikan di perjalanan juga tanda pengenal berupa kain oranye yang diberi “nama bagus” kami dengan diikatkan di masing – masing bahu kami. Setelah ekstra pramuka berangkat, Kami pun berangkat setelah mereka. Perjalanan diawali dengan mengucapkan salam terhadap Senior. Kami pun berangkat sambil menyanyikan lagu yang telah diajarkan tadi. Perjalanan yang dilalui sangat melelahkan, tidak jarang Kami melakukan istirahat. Nah, pada saat sampai di samping stadion, carrier kami di cek untuk mencari carrier mana yang masih ringan karena sebelum berangkat tadi, c...