Pengaruh
Akumulasi Kegagalan Terhadap Kesuksesan
Semua
pengalaman yang terjadi dalam hidup ini ada yang bersifat positif maupun
negatif. Positif memiliki lawan kata, negatif yang sama halnya dengan
kesuksesan dan kegagalan. Pengalaman pada MTQUM XII 2017 pada tanggal 28
Oktober 2017 sampai dengan sekarang yakni Minggu, 29 Oktober 2017 pada pukul
22:22 WIB di Kamar 113 (atas) Asrama Putra Universitas Negeri Malang memberikan
saya hikmah yang berarti, bahwasannya dalam hidup ini dibutuhkan kegagalan agar
terdapat nama kesuksesan. Misal contoh, dalam sebuah kompetisi pasti terdapat
yang menang ataupun yang kalah. Dalam hal ini, dapat kita lihat bahwa
sebenarnya pemenang membutuhkan yang kalah untuk menang. Seseorang dikatakan
menang saat mengalahkan pihak yang kalah. Tapi, bukan hal ini yang akan kita
bahas dalam pembahasaan kali ini. Kita akan membahas “Bagaimana Cara Kegagalan
Membentuk Sebuah Kesuksesan?”.
Kegagalan merupakan kondisi
dimana seseorang tidak atau belum sukses. Saat seseorang mengalami kegagalan,
apakah yang dia rasakan? Rasanya pahit. Apakah pahit disini dapat disamakan
dengan rasa pahit kopi? Tentu tidak. Bukan pahitnya kopi yang akan kita bahas
disini. Saat seseorang gagal, dia akan mengalami kondisi dimana Ia merasa
makhluk yang terlemah, terpayah, benci terhadap diri sendiri, sakit hati atau
mungkin patah hati. Disinilah, seorang manusia sebagai hamba membutuhkan
sesuatu yang mampu menyadarkannya akan sesuatu yang seharusnya Ia lakukan.
Kondisi down ini dapat terjadi karena
seseorang yang gagal merasa bahwa dirinya tidak sehebat orang lain. Kebanyakan
orang yang pesimis akan putus asa atau bahkan putus cinta terhadap apa yang Ia
perjuangkan itu. Berbeda dengan orang yang optimis, Ia akan mengubah
keadaan/suasana hati yang hancur ini dengan segenap kepositifan yang ada di
dalam diri maupun sekitarnya. Perbedaan manusia yang optimis dan pesimis
terletak pada empat huruf pertamanya. Perbedaan lainnya adalah:
“Jika orang yang pesimis mampu mengubah segala hal positif dalam hidupnya
menjadi negatif. Orang yang optimis adalah mereka yang mampu mengubah segala
bentuk keadaan, baik yang negatif atau biasa-biasa saja menjadi suatu hal yang
positif plus plus dan luar biasa.”
Contoh lain dapat kita temukan
pada jurusan sastra Indonesia, yakni perbedaan penggunaan “tidak bisa” dengan “belum
bisa”.
Komentar
Posting Komentar